header-int

BANGKIT DARI NARKOBA Rumah Harapan bagi Pecandu

Jumat, 06 Apr 2018, 08:35:12 WIB - 243 View
Share
BANGKIT DARI NARKOBA Rumah Harapan bagi Pecandu

Udara yang sejuk dan suasana nan tenang di kawasan Lido, Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, diharapkan membuat residen atau pecandu narkoba yang tengah dipulihkan merasa lebih nyaman. Karena itu, lokasi Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional jauh dari jalan utama, yaitu Jalan Siliwangi, yang menghubungkan Bogor-Sukabumi.

Akses menuju kawasan ini hanya melalui Jalan Mayjen HR Edi Sukma di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong. Lokasinya memang tak begitu jauh dari Sekolah Polisi Negara Lido. Balai itu dapat dicapai setelah melewati perumahan penduduk dan perkebunan yang luas.

Untuk menuju balai rehabilitasi yang luasnya sekitar 11 hektare itu, pengunjung mesti melewati Pusat Pendidikan dan Latihan BNN, gedung K-9, Rumah Damping, serta Pusat Laboratorium Narkotika BNN. Pengunjung harus melintasi pos gerbang utama, yang dilengkapi mesin sinar-X. Semua pengunjung mesti mengenakan kartu ID khusus yang ditukar sementara dengan KTP atau tanda pengenal lainnya.

Setelah melewati gerbang, di sebelah kanan terlihat tiga gedung berlantai dua yang menjadi mes karyawan, staf, atau petugas Balai Besar Rehabilitasi BNN. Di seberangnya terdapat gedung olahraga yang luas. Juga terdapat sebuah minimarket dan empat rumah dinas.

Tepat di depan minimarket serta rumah jabatan terdapat gedung Therapeutic Community (TC) atau Komunitas Terapi. Sementara itu, di samping gedung TC terdapat helipad. Lalu ada gedung utama Balai Besar Rehabilitasi BNN, gedung serbaguna di belakangnya, serta guest house untuk keluarga atau orang tua residen dari daerah yang menginap saat berkunjung.

Ada juga gedung khusus untuk detoksifikasi, dapur, pendapa, dan tempat ibadah. Bangunan Balai Besar Rehabilitasi BNN jauh dari kesan rumah tahanan, penjara, atau lembaga pemasyarakatan pada umumnya. Tak ada sel-sel tahanan.

Para petugas, staf, dan residen bebas berlalu lalang, khususnya di gedung TC. Di gedung itulah ratusan residen yang sedang dalam tahap penyembuhan selama empat hingga enam bulan tinggal. Beberapa residen terlihat berjalan didampingi staf. Mereka bercakap-cakap begitu akrab satu sama lainnya.

Ketika mengunjungi kompleks balai rehabilitasi itu pada Rabu, 28 Maret 2018, terlihat beberapa residen berlalu lalang, baik secara berkelompok maupun sendiri, ditemani pendamping atau konselor. Sebagian besar residen yang tinggal di gedung TC ini mengenakan pakaian bebas, tapi rapi.

Di bagian dasar gedung TC terdapat ruang konseling, ruang gym, perpustakaan, ruang medis, ruang perawatan, ruang pengunjung, dan ruang musik. Komunitas Terapi merupakan salah satu metode rehabilitasi yang diadopsi dari di Amerika Serikat untuk para pengguna atau pecandu narkoba.

Di gedung TC ini terdapat beberapa rumah atau tempat rehabilitasi. Di lantai satu, misalnya, terdapat House Entry Unit, yaitu tempat yang disinggahi para residen yang sudah dibersihkan melalui program detoksifikasi. Di unit ini, residen akan diberi pemahaman mengenai program apa saja yang sedang dijalani selama rehabilitasi.

Masih di lantai satu, terdapat juga Green House, yaitu rumah tempat pelatihan dan pendidikan bagi residen laki-laki yang berusia kurang dari 35 tahun. Di tempat ini mereka akan dilatih tentang sikap, tingkah laku, dan kepribadian. Tujuannya, ketika pulang, mereka bisa diterima di lingkungan masyarakat. Program ini berlangsung selama empat bulan.

Lalu ada House of Hope, yaitu rumah pelatihan dan pendidikan bagi residen atau pecandu lelaki yang berusia di atas 35 tahun atau pecandu yang sudah pernah keluar dari panti rehabilitasi. Di tempat itu, sebanyak 44 residen menjalani program pemulihan.

Berbeda dengan di Green House, di House of Hope ini residen akan diubah pola pikirnya agar tidak lagi terikat pada narkoba dan bisa kembali ke masyarakat. “Di Rumah Hope ini program panjang, selama enam bulan. Di sini juga ada ruang perawatan. Total populasi ada 44 orang, yang di dalam rumah ada 43 orang, satu lagi dirawat di rumah sakit,” kata dr Dian, salah satu staf dokter di Balai Besar Rehabilitasi BNN.

Sementara itu, di lantai dua gedung TC terdapat House of Faith. Tempat ini dihuni beberapa residen yang memang tak mendapatkan dukungan dari keluarganya, tak memiliki pekerjaan, dan rata-rata sudah kecanduan narkoba selama lima tahun. Program primary untuk rehabilitasinya sama dengan di House of Hope.

Sedangkan House of Change, yang terdapat di area belakang Balai Besar Rehabilitasi, tepatnya di samping gedung detoksifikasi, prinsipnya sama dengan House of Hope, tapi lebih dikhususkan bagi residen yang berasal dari pegawai negeri sipil, pejabat negara, polisi, dan militer. Di House of Change ini semua program rehabilitasi dilakukan selama empat bulan.

Semua residen yang sudah dipulihkan selama empat bulan akan dimasukkan ke rumah Re-Entry. Mereka yang menjalani pascarehab akan terus dipantau dan diberi sejumlah pelatihan selama satu bulan untuk meningkatkan keahlian di berbagai bidang agar bisa kembali hidup normal di tengah-tengah masyarakat.

Juga ada rumah khusus bagi wanita, yang disebut Female, dan rumah anak-anak. Mereka ditempatkan di lantai dasar gedung utama Balai Besar Rehabilitasi BNN. Di tempat ini pula terdapat program detoksifikasi, entry unit, green house, dan re-entry tersendiri.

Pelayanan rehabilitasi di BNN ini memiliki tiga program. Semua residen yang masuk wajib menjalani rehabilitasi medis, yaitu program detoksifikasi selama empat minggu atau satu bulan. Setelah itu, residen menjalani program rehabilitasi sosial atau primary. Pelayanan rehabilitasi sosial ini ada yang empat bulan, tiga bulan, dan satu bulan (khusus bagi residen anak-anak).

Pelayanan di balai rehabilitasi ini terbilang komplet, seperti pelayanan medis (dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter farmasi), pelayanan voluntary counseling and test (VCT), serta pelayanan sosial (psikolog, konselor, pekerja sosial, dan pembimbing mental). Termasuk pemeriksaan laboratorium dengan peralatan radiologi, EKG, EEG, USG, gizi, dan fisioterapi.

“Pelaksanaan di Balai Besar Rehabilitasi BNN bagi pecandu dan penyalahgunaan narkoba menggunakan sistem one stop center (pelayanan satu atap) terdiri atas pelayanan rehabilitasi medis dan sosial,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Balai Besar Rehabilitasi BNN Siti Nurkhasanah.

Dalam pelaksanaan rehabilitasi, para petugas, staf, dan konselor selalu menggunakan terminologi atau jargon khusus untuk mempermudah komunikasi dengan para residen. Karena itu, tak aneh bila komunikasi di antara petugas, staf, konselor, dan residen menggunakan bahasa gaul. “Ya, ini agar memudahkan residen sendiri untuk memahami konteks masalah dan sebagainya,” tutur Siti.

Setiap kelompok residen memiliki pemimpin, yang akan ditunjuk sebagai resident coordinator (RCO) atau koordinator residen setiap bulan. “Jabatan RCO setiap bulan diganti dengan cara memilih residen berdasarkan perkembangan residen selama menjalani proses rehabilitasi,” ujar Gita K, seorang residen yang menjadi RCO, saat ditemui di gedung TC.

Menurut Gita, selain jabatan RCO, ada jabatan coordinator of department (COD). Residen yang menjadi COD memiliki tanggung jawab atas tiga departemen. Pertama Kitchen Department, yang mengurusi semua pola makan. Kedua General Department, yang membawahi tiga unit kerja, yaitu laundry, house keeping, dan unit religi.

Ketiga Expeditor Department, yaitu pengendali keamanan yang ada di House of Hope. Di bagian ini ada tiga unit pengendalian keamanan, yaitu pertama Business Office berupa perlengkapan alat tulis kantor di House of Hope. Kedua Unit Group Maker, yaitu pengaduan permasalahan. Di sini terdapat COD, yang akan melakukan screening, yang akan menanyai seperti layaknya jaksa atau penyidik.

Ketiga ada bagian Crew Expeditor Team. Mereka ini seperti mata dan telinga di House of Hope, mirip intelijen. Mereka akan mencatat kesalahan-kesalahan residen. Catatan itu akan diambil setiap sore, lalu dibawa kepada seorang konselor. Di tangan tim inilah kesalahan residen yang dilaporkan akan diputuskan hukumannya.

“Hukumannya bukan secara fisik, tapi lebih ke afirmatif atau membuat tulisan sebanyak 500 kata, disuruh mengarang cerita sesuai dengan apa yang dilakukan residen,” tutur Gita.

Kalaupun ada, hukuman secara fisik tak lebih dari hukuman mencuci semua peralatan makan atau perkakas memasak. Begitu juga bila residen yang beragama Islam tak menunaikan salat lima waktu, hukumannya wajib membersihkan musala atau masjid.

“Pelanggaran berat yang sangat fatal itu melanggar cardinal rules (peraturan utama yang harus ditaati). Ada lima aturan yang tak boleh dilanggar, yaitu No Drugs, No Sex, No Vandalism, No Violence, dan No Stealing,” tegas Gita.

Gita menambahkan, residen banyak memiliki aspek kognitif dan pengalaman. Misalnya ada yang memiliki riwayat pernah dipenjara atau tidak dan memiliki persoalan rumah tangga yang kompleks. Karena itu, interaksi sosial antara residen yang pernah dipenjara dan belum akan dipisahkan.

Hal ini dilakukan agar tidak terjadi transfer budaya di antara residen. Residen akan dipisahkan sesuai lima aspek, yaitu riwayat keluarga, penggunaan narkoba, kriminalitas, kesehatan, dan kejiwaannya. “Mereka ditangani sesuai kebutuhan mereka sendiri. Dalam menjalani jadwal harian, kita pikirkan keseimbangan antara belajar, aktivitas fisik, kegiatan ibadah, rekreasi, dan kerja tim,” Gita menambahkan.

Sejarah Balai Besar Rehabilitasi BNN bermula saat Ibu Tien Soeharto merealisasi Badan Koordinasi Pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 1971 sebagai pilot project DKI Jakarta dengan nama Wisma Pamardi Siwi di kawasan Cawang, Jakarta Timur, pada 13 Oktober 1974.

“Babesrehab (Balai Besar Rehabilitasi) BNN ini awal sejarahnya bernama Wisma Pamardi Siwi, yang khusus menangani anak-anak nakal dan wanita pekerja seks,” tutur Kepala Balai Besar Rehabilitasi BNN Mohammad Ali Azhar.

Pada 1985, keluar Surat Keputusan Kapolri No.Pol.Skep/08/VII/1985 tentang Perubahan Struktur Organisasi Polri. Wisma Pamardi Siwi pun dijadikan tempat rehabilitasi sosial bagi anak-anak dan pekerja seks. Pada 1997, wisma ini dikembangkan menjadi Klinik Nazatra Dinas Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya sebagai pendukung pelayanan dalam bidang rehabilitasi medis dalam rangka pelayanan terpadu (medis dan sosial).

Pada 2002, keluar Keppres RI Nomor 17 Tahun 2002 tentang Badan Narkotika Nasional. Pada 25 Januari 2002, sesuai dengan Keputusan Kepala BNN No: Kep.02/IV/2002/BNN, yang kemudian disempurnakan dengan Keputusan No. 20/XII/2004/BNN, wisma diubah menjadi Unit Terapi dan Rehabilitasi Balai Kasih Sayang Pamardi Siwi untuk menangani korban narkoba, HIV/AIDS, dan komplikasi lainnya.

Lalu pada 2007, unit terapi dan rehabilitasi ini pun diubah lagi namanya menjadi Unit Pelaksana Teknis Terapi dan Rehabilitasi BNN sesuai dengan Peraturan Kepala BNN bernomor PER/02/XI/2007/BNN tertanggal 15 November 2007. Lokasi pun dipindah dari Cawang, Jakarta Timur, ke kawasan Lido, Cigombong, Bogor. Baru pada 2013, keluar Peraturan Kepala BNN Nomor 02 Tahun 2013, yang mengubah UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN menjadi Balai Besar Rehabilitasi BNN.

“Total petugas di Babesrehab saat ini berjumlah 181 orang, yang terdiri atas petugas medis sebanyak 90 orang dan petugas sosial sebanyak 91 orang,” kata Ali.

Sejak 2012 hingga 2017, balai ini telah merehabilitasi 6.260 pecandu dari seluruh daerah di Indonesia. Saat ini, periode Januari-Maret 2018 plus sisa residen yang direhabilitasi per Desember 2017 berjumlah 446 orang. Dari jumlah 6.260 yang pernah direhab di balai ini, residen yang relapse (kambuh kembali) tercatat 474 orang.

“Tingkat relapse-nya kecil, 7,56 persen. Dari penelitian sebelumnya sampai 20 persen, lalu turun 10 persen, sekarang 7,56 persen, ini artinya sudah bagus,” tutur Ali.

sumber : detikX

 

 

Stop Narkoba, Mari Bersama Selamatkan Generasi Bangsa - ayo segera Rehabilitasi, Gratis !!! Hotline Rehabilitasi : 0852 1334 5468
© 2018 BNN Kabupaten Karimun Follow BNN Kabupaten Karimun : Facebook Twitter Linked Youtube