Menularkan Kecanduan Menulis

Oleh Afib Rizal, S.Sos, M.I.Kom “Kebenaran dapat dibuat dengan pengulangan kebohongan”, Plato (427-347 SM). Kemarin sore saat menggunakan jasa Ojek Online, penulis ditanya oleh drivernya berkenaan dengan Peredaran Narkoba terutama kasus narkoba didalam tiang pancang di Jakarta Utara. Sebenarnya bukan ini saja penulis mendapat pertanyaan serupa oleh orang terkait hal itu. Lebih parah lagi menjelang pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta 15 Februari 2017 kemarin, lini massa penulis banyak dibanjiri kiriman pesan tentang isu yang sama. Padahal Humas BNN RI sudah mengeluarkan pernyataan tertulis yang membantah keterkaitan narkoba Tiang Pancang itu untuk proyek reklamasi di Jakarta termasuk juga banyaknya jumlah narkoba yang dikabarkan sekitar 5 ton. Fakta yang benar adalah tanggal 14 Juni 2016 BNN, menangkap lima orang tersangka atas keterlibatan mereka dalam penyelundupan sembilan batang pipa besi berisi sabu di kawasan Rawa Bebek, Jakarta Utara. Total barang bukti yang diselundupkan adalah 40 kilogram sabu dan diduga berasal dari negara Tiongkok. Kasus tersebut telah dirilis secara resmi oleh BNN pada tanggal 15 Juni 2016. Sebenarnya berita yang tidak benar terkait isu nakoba seperti diatas jamak terjadi. Bukan hanya masalah tiang pancang saja. Dalam ingatan Penulis akhir-akhir ini ada juga berita hoax seputar isu narkoba seperti; permen jari, bolpoint narkoba, ataupun yang sedang marak belakangan ini adalah permen Dot. Ironisnya, sebagai antitesa penangangannya, kadangkala beberapa pihak melakukan upaya pemberantasan langsung tanpa ada upaya cross check ataupun mencari legalitas kebenaran akan isu itu. Di beberapa daerah misalkan, upaya reaktif digalakkan aparat penegak hukum untuk mensita barang atau makanan yang diduga mengandung narkoba yang sedang diedarkan. Bahkan upaya pemberantasannyapun terkesan dilaksanakan secara hiperbolis. Kegiatan ini diliput dan diblow up sedemikian rupa dengan melibatkan berbagai media. Baik itu media mainstream, media personal (para pemilik akun media social), ataupun penyebaran dari mulut ke mulut. Kelatahan tindakan seperti ini otomatis menimbulkan keresahan yang berlebihan di masyarakat. Namun di sisi lain juga sekaligus menimbulkan kerugian material dan imaterial terutama dari segi ekonomi. Dalam hal ini, para pedagang / pengecer inilah yang paling kena imbasnya. Ketika marak berita Hoax permen dot mengandung narkoba misalnya, barang dagangan mereka itu di razia oleh aparat keamanan di beberapa daerah. Walaupun pada akhirnya dagangan mereka di Surabaya dikembalikan dengan cara dibeli oleh aparat pemkot Surabaya. Namun di daerah lain para pedagang harus merelakan dagangannya disita oleh aparat. Adapula karena mendengar isu tersebut, para pedagang di Samarinda malah membakar dagangannya sendiri dengan alasan untuk melindungi anak-anak dari ancaman bahaya narkoba. Di Sukabumi lain lagi. 20 Februari 2017, Sebuah toko perhiasan di sana, jadi sasaran berita hoax karena diisukan akan bangkrut sebab pemiliknya tertangkap dalam kasus narkoba. Akibatnya, ratusan konsumen menjejali toko di areal Pasar Palabuhanratu itu untuk menjual perhiasan yang dibeli dari toko tersebut. Sampai antrean konsumen yang ingin menjual emasnya meluber hingga kebagian luar toko. Parahnya Toko perhiasan emas yang dikabarkan akan bangkrut merupakan salah satu toko ternama di Pelabuhanratu. Untuk melawan isu tersebut, Sang pemilik toko emas akhirnya menggelar sayembara dengan hadiah uang Rp15 juta bagi siapa pun yang bisa menangkap pelaku awal penyebar berita bohong (hoax) untuk diserahkan kepihak Polisi. Ia juga akan memberikan voucher belanja di jaringan usaha miliknya. Mulai dari toko mas, elektronik, dan hotel akan diberikan kepada pemenang sayembara. Sayangany sampai artikel ini ditulis, belum ada pemenang sayembara, namun upaya ini cukup efektif untuk melawan penyebaran berita Hoax. Penyebaran hoax sejatinya tidak mengenal batas etika, moral, ataupun batas-batas yuridis lainnya. Lembaga pertahanan setingkat TNI pun juga pernah terkena kabar Hoax seputar nerkoba. Ceritanya dimulai dengan beredar kabar di media sosial mengenai intruksi Panglima TNI tentang tembak ditempat terhadap pelaku kejahatan narkotika. Namun Kapuspen TNI, Mayjen Wuryanto menegaskan, Panglima TNI tidak pernah mengeluarkan instruksi kepada Kepala Staf Angkatan, seluruh Pangdam dan jajaran intelijen terkait razia narkoba yang dilakukan oleh BNN dan Polri di lingkungan perkantoran dan Asrama Militer. Wuryanto juga menerangkan bahwa beredarnya berita di media sosial dan WhatsApp terkait instruksi Panglima TNI kepada Kasad, Kasal dan Kasau, seluruh Pangdam dan jajaran intelijen tentang razia Narkoba yang dilaksanakan oleh BNN dan Kepolisian maupun pihak lain di lingkungan Perkantoran dan Asrama Militer, adalah berita bohong atau Hoax, yang dapat menyebabkan terjadinya benturan antar institusi TNI, Polri dan BNN. Sasaran Antara. Dalam pengamatan Penulis, berita hoax seputar narkoba hanyalah isu antara, bukan sebagai isu utama. Ada isu lainnya yang menggunakan isu narkoba sebagai domplengan / penyamaran isu sebenarnya. Contohnya berkaitan dengan SARA seperti Hoax narkoba tiang pancang ataupun Narkoba permen jari. Pendek kata, isu narkoba hanyalah cara untuk memuluskan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mencapai tujuannya. Ada juga yang memang membranding dan mendesain isu narkoba dengan disesuaikan kemunculannya pada situasi dan kondisi yang tepat dan dilakukan oleh orang tak bertanggungjawab. Seperti hoax pada isu sensitif lainnya, hoax yang berkaitan dengan isu narkoba bukanlah muncul secara tiba-tiba. Bukan pula karena pekerjaan orang iseng untuk membunuh waktu luang. Faktanya, ada sebab-sebab tertentu yang akhirnya mucullah isu hoax seputar narkoba. Salah satunya adalah upaya pembunuhan karakter karena persaingan bisnis dan politik seperti diatas. Sebagai sebuah informasi, hoax bekerja dengan melalui hukum komunikasi Laswell yaitu , “Who says what, to whom, to which channel and with what effect”. Siapa yang memproduksi,menyebarkan, ataupun menerima hoax pastilah memiliki kepentingan akan hoax nya itu. Majalah Tempo edisi 8 Januari 2017 memuat bagaimana media online yang menyebarkan berita Hoax memperoleh keuntungan finansial yang cukup besar melalui iklan dari Google AdSense karena banyaknya kunjungan ke halaman webnya ataupun pemasangan iklan berbayar di web tersebut. Sisi Positif. Sayangnya Majalah Tempo edisi “Wabah Hoax” tersebut tidak memuat isu Hoax seputar narkoba melainkan yang berkaitan dengan SARA. Termasuk juga efek positif yang ditimbulkan atas beredarnya berita Hoax. Sebaliknya, penulis melihat Hoax terkait isu narkoba ini bisa dipandang sebagai sisi positif dan secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk mengkampanyekan gerakan anti narkoba. Beredarnya Hoax secara tidak langsung juga mendidik masyarakat untuk mencari kebenaran tersembunyi akan kandungan isi berita. Karena sesungguhnya berita hoax tidaklah selamanya buruk bagi masyarakat, ia juga mengandung unsur pembelajaran dan rasa keingintahuan untuk mencari pengetahuan menjadi makin luas (budaya literasi). Sebab orang akan menelusuri asal mula berita dan menjabarkan secara gamblang mengapa berita bohong itu beredar. Karena sesungguhnya tujuan pihak yang menyebarkan berita hoax adalah dalam rangka memberitakan petunjuk ataupun kewaspadaan tentang sesuatu. Walaupun demikian tetap juga memiliki nilai berita. Layaknya sebuah informasi, Hoax bagaikan untaian benang merah yang terus dirajut pelakunya, kebohongan-demi kebohongan yang ditebarkan ketika disusun akan membentuk nilai kebenaran, bukan ?.
Sumber :disini

Post Author: Humas-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *